• REVIEW CDRAMA Shining For One Thing (2022))

    "Jika kalian diberi kesempatan untuk mengulang kehidupan kalian, akankah kalian mengambil kesempatan itu?" - Lin Beixing

  • POJOK BEBEK 19 Drama Korea 2019 Terbaik versi BEBEK K-PO

    Beberapa rekomendasi drama korea tahun 2019 terbaik versi Kwak, Kwik, dan Kwek BEBEK K-PO.

  • REVIEW DRAMA Itaewon Class (2020)

    Perjuangan Park Sae Ro Yi (Park Seo Joon) untuk membangun bisnis di bidang makanan no. 1 di Korea Selatan demi membalaskan dendamnya pada CEO Jang Dae Hee (Yoo Jae Myung).

  • REVIEW FILM Secret Zoo (2020)

    Tae-soo harus menghidupkan kembali kebun binatang yang sudah bangkrut, namun masalahnya di sana tidak ada hewan untuk ditunjukkan. Apa jadinya Kebun Binatang tanpa binatang?

  • REVIEW DRAMA Crash Landing On You (2020)

    Ketika sebuah kecelakaan paralayang membuat seorang pewaris konglomerat mendarat di utara DMZ, seorang tentara Korea Utara yang gagah menyelamatkannya dan menyembunyikannya dari pihak berwajib.

Showing posts with label Film non-Korea. Show all posts
Showing posts with label Film non-Korea. Show all posts

[REVIEW FILM] One Cut of The Dead (2018)

One Cut of The Dead

  • Judul: One Cut of the Dead / カメラを止めるな! / Kamera wo Tomeru na!
  • Sutradara/Screenplay/Editor: Shinichiro Ueda
  • Penulis Naskah: Shinichiro Ueda
  • Produser: Koji Ichihashi
  • Produksi: Enbu Seminar
  • Sinematografer: Tsuyoshi Sone
  • Tanggal Rilis: 23 Juni 2018 (Jepang), 28 November 2018 (Indonesia)
  • Durasi: 95 menit.
  • Genre: Horror-Comedy/ Action / Adventure / Zombie / Filmmaking
  • Distributor: Asmik Ace Entertainment / ENBU Seminar (Jepang), Moxienotion (Indonesia)
  • Bahasa: Jepang



Sinopsis:

Film ini menceritakan sekelompok movie maker yang sedang membuat film zombie di sebuah gedung tua. Gedung ini bukan gedung biasa. Ada cerita yang mengatakan bahwa sebelumnya gedung tersebut digunakan militer Jepang untuk pecobaan membangkitkan mayat hidup. Namun ternyata zombie sungguhan datang dan meneror para aktor yang ada di gedung tua tersebut. One Cut of the Dead adalah film yang sangat berbeda dimana 37 menit pertama pengambilan gambar dilakukan tanpa henti. Film ini bertransformasi dari sebuah film zombie menjadi film unik yang sangat berbeda dari film yang pernah ada. Sebuah karya yang kocak, menghibur, dan original. 100 % score di Rotten Tomatoes.

Daftar Pemeran:

  • Takayuki Hamatsu sebagai Takayuki Higurashi
  • Mao sebagai Mao Higurashi
  • Harumi Syuhama sebagai Harumi Higurashi
  • Kasuaki Nagaya sebagai Kazuaki Kamiya
  • Manabu Hosoi sebagai Manabu Hosoda
  • Hiroshi Ichihara sebagai Hiroshi Yamanouchi
  • Shuntaro Yamazaki sebagai Toshisuke Yamago
  • Shinichiro Osawa sebagai Shinichiro Kosawa
  • Yoshiko Takehara sebagai Yoshiko Sasahara
  • Miki Yoshida sebagai Miki Yoshino
  • Junna Goda sebagai Junna Kurihara
  • Sakina Asamori sebagai Saki Matsuura
  • Yuzuki Akiyama sebagai Aika Matsumoto
Sr: Rotten Tomatoes, Moxienotion, Asianwiki


Ini udah kesekian kalinya Bebek K-po diundang screening film dari Moxienotion. Jangan bosen-bosen ngundang kami yak... Dan buat Bebek K-poers jangan bosen juga baca review film yang makin beragam (gak cuma Korea aja).

Registrasi dulu....

Suasana saat registrasi dan menunggu jadwal tayang film

Dalam acara screening kemarin, hadir juga beberapa 'zombie' yang ikut memeriahkan acara. Mereka ikut berbaur dengan para penonton yang sedang menunggu filmnya tayang. Berikut potret-potret kehadiran yang bisa Kwik abadikan saat berjalannya acara screening kemarin:

Ada zombie mau ikut registrasi juga... 😆

😱😱😱



Review:

Kesan pertama melihat judul film ini: sepertinya bakal jadi film seram nih... Paling tidak akan ada adegan sport jantung kejar-kejaran dengan zombie. Setelah membaca beberapa komentar di Rotten Tomatoes: nampaknya ada plot twist yang di luar dugaan, apakah itu? Makin penasaran... Pujian-pujian dari banyak pihak dan komentar film zombie yang tidak biasa membuat Kwik makin tambah penasaran dan tertarik menontonnya.

Seperti yang telah digambarkan dalam sinopsis, 37 menit awal berisi film zombie dengan teknik pengambilan gambar satu kamera (one cut). Mungkin awalnya penonton terasa agak terganggu dengan kamera yang tidak stabil (sering bergoyang) dan terkesan film amatir yang direkam dengan kamera tangan saja. Teknik pengambilan gambar ini membuat kesan seperti film amatir dan memang sesuai dengan konsep film ini. Setelah 37 menit berakhir, penonton disuguhi dengan kisah dibalik layar dan latar belakang pembuatan film 37 menit tersebut. Sangat unik... Dalam sebuah film terdapat film pendek sekaligus dengan kisah dibalik layar pembuatan film tersebut.

Awalnya Kwik sudah takut film ini akan menjadi film yang menegangkan dan seram. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dengan tanpa menghilangkan jejak horor dari zombie, film ini mampu menghadirkan genre film zombie yang unik dan tidak biasa. Kwik salut deh... Bisa gitu kepikiran ide bikin film begini... Out of the box banget menurut Kwik. Beberapa kali studio dipenuhi tepuk tangan disertai tawa para penonton.

37 menit awal memang terasa agak aneh dan membingungkan, namun kisah dibalik layar menyajikan semua jawaban atas pertanyaan yang timbul dengan nuansa yang di luar dugaan... Penonton juga disuguhi teknik-teknik pembuatan film zombie sehingga menambah pengetahuan dan gambaran mengenai apa saja yang terjadi di balik layar sebuah film zombie.

Dari film ini kita juga bisa memetik pelajaran tentang kerja sama dalam tim serta kekeluargaan. Alih-alih menyajikan nuansa horor dan tegang, film ini malah menyajikan nuansa penuh kehangatan dan komedi di dalamnya.

Film ini Kwik rekomendasikan bagi semua orang yang tertarik mencari film yang ringan dan unik, baik penggemar horror dan zombie maupun tidak. Memang ada beberapa adegan sadis dan berdarah-darah, namun tidak diperlihatkan dengan detail dan jelas. Tapi ya gak cocok untuk anak kecil ya... tetap saja adegan seperti itu masih terkesan sadis. Bagi yang penasaran dan ingin menonton film ini bisa langsung cuss ke cgv terdekat ya... (bukan iklan, hahaha...) Serius Kwik terpukau sama film ini. Kesannya film ini sederhana namun menarik. Cocok banget sebagai hiburan waktu senggang dan pelepas stres...

Yang udah nonton, boleh berbagi di komentar kesan kalian akan film ini ya...

-Kwik-

[REVIEW FILM] Laplace's Witch (2018)


  • Judul: Laplace's Witch / ラプラスの魔女 / Rapurasu no Majo
  • Sutradara: Takashi Miike
  • Penulis: Keigo Higashino (novel), Hiroyuki Yatsu
  • Genre: Art House & International, Drama, Mystery & Suspense
  • Tanggal Rilis: 4 Mei 2018 (Jepang), 7 November 2018 (Indonesia)
  • Durasi: 116 Menit
  • Distributor: Toho (Jepang), Moxienotion (Indonesia)

Sinopsis:

Dua orang meninggal karena keracunan Hidrogen Sulfida (H2S) di sumber mata air panas yang berlokasi di daerah yang berbeda. Pihak kepolisian bertanya pada Profesor Shusuke Aoe (Sho Sakurai), yang seorang geokimiawan, untuk menentukan apakah kematian tersebut disebabkan oleh kecelakaan aneh atau merupakan pembunuhan.

Menurut Profesor Aoe, tewasnya kedua korban disebabkan gas beracun naik melalui lubang tanah di sekitar sumber mata air panas dan konsentrasi pada saat kejadian menyebabkan kedua korban keracunan hingga tewas di TKP. Di sisi lain, Detektif Yuji Nakaoka (Hiroshi Tamaki) menduga bahwa kedua kematian tersebut merupakan kasus pembunuhan dan mulai menyelidiki latar belakang para korban dan menyelidiki kasus tersebut.

Saat menyelidiki kasus tersebut, Shusuke Aoe bertemu dengan Madoka Uhara (Suzu Hirose). Dia bisa menebak dengan tepat bahwa sebuah fenomena alami akan terjadi. Dia mengaku dirinya sebagai Laplace's Witch atau Penyihir Laplace.

Pemeran Utama:
  • Sho Sakurai sebagai Shusuke Aoe
  • Suzu Hirose sebagai Madoka Uhara
  • Sota Fukushi sebagai Kento Amakasu
  • Hiroshi Tamaki sebagai Yuji Nakaoka
  • Etsushi Toyokawa sebagai Saisei Amakasu
  • Lily Franky sebagai Zentaro Uhara



Jadi, tim Bebek K-po lagi-lagi dapat kesempatan untuk mengikuti screening film dari Moxienotion. Kali ini adalah film Jepang bergenre misteri ini... Genre beginian emang kesukaan Kwik banget, jadilah Kwik semangat banget dapat undangan ini... hehehe... Sekaligus selingan ya, mungkin Bebek K-poers lagi cari-cari film selain film Korea yang bisa dinikmati di bioskop lokal, film ini bisa jadi salah satu pilihan.


Film ini diangkat dari sebuah novel terlaris di Jepang tahun 2015 karya Keigo Higashino yang terinspirasi dari A philosophical Essay on Probabilities oleh Pierre - Simon Laplace, seorang ahli matematika Perancis. Teori ini menyatakan bahwa keadaan alam semesta dipengaruhi oleh masa lalu dan menjadi penyebab masa depan. Jika seseorang mengetahui semua gaya yang membuat alam semesta bergerak dan semua letak posisi di dalamnya, serta dapat menganalisis semua data tersebut, maka segala hal yang akan terjadi di masa depan dapat diprediksi dengan tepat. Keigo Higashino adalah seorang penulis bergenre misteri yang terkenal di Jepang.

(Sumber: Moxienotion, Asianwiki)


Review:

Apa yang akan kalian lakukan jika kalian bisa memperhitungkan apa yang akan terjadi di masa mendatang dengan kondisi dan data dari masa kini??? Apakah kalian ingin mempunyai kemampuan 'meramal' masa depan seperti itu???

Konsep cerita film ini sangat menarik hati Kwik sebagai pencinta genre misteri, apalagi yang dikaitkan dengan sains dan ilmu pengetahuan layaknya dorama (drama Jepang) Galilleo, Hard Nut, atau manga (komik Jepang) Q.E.D, C.M.B dan sejenisnya. Tema menarik dengan para aktor-aktris yang juga tak kalah keren... Bagi penggemar dorama dan film Jepang pasti sudah tidak asing dengan wajah-wajah para pemeran dalam film ini.

Seperti yang Kwik sudah sebutkan, kemampuan aktor dan aktris dalam film ini sudah tidak perlu diragukan lagi ya... Sakurai Sho anggota Arashi ini sudah seringkali membintangi drama dan film. Demikian juga dengan Suzu Hiroshe, sebut saja proyek tenar terbarunya Chihayafuru yang juga baru merilis film barunya. Sota Fukushi, Hiroki Tamaki, dan bahkan beberapa aktor pendukung juga menunjukkan penampilan yang bagus.

Namun sayangnya menurut Kwik masih ada beberapa celah dalam film ini. Kwik gak tahu gimana isi novel aslinya, karena gak ada versi Bahasa Indonesianya... hahaha... Hanya saja Kwik merasa beberapa hal kurang penjelasan dan beberapa hal terkesan terlalu datar. Mungkin memang penjelasan detail kasus sesuai teorema Laplace terlalu rumit dan hanya bisa dipikirkan oleh para Laplace’s Witch dan Laplace’s Demon namun tak ada salahnya menunjukkan penjelasan yang lebih detail. Selain itu beberapa transisi adegan terasa kurang halus dan terkesan memotong(?) adegan sebelumnya.

Terlepas dari beberapa hal yang membuat kecewa, Kwik suka banget sama musik latarnya... Musik latar yang digunakan dalam film ini benar-benar pas dan mampu menambah nuansa mistis, klasik, nan religius. Hmm...Ya begitulah.. pokoknya musik latarnya pas banget menurut Kwik (maaf Kwik sulit menjelaskan dengan kata-kata... hehehe)

Sepertinya film ini berusaha mencegah penonton merasa pusing dan bosan dengan bobot penjelasan yang cukup berat, namun jadinya malah terasa nanggung. Durasi film yang terbatas juga terkesan membatasi karena harus menjelaskan banyak hal dalam waktu hanya sekitar 2 jam saja. Penambahan durasi mungkin bisa menambah ruang untuk mendetailkan beberapa hal penting dalam film namun juga menambah kemungkinan penonton merasa bosan jika tidak dapat menyajikannya dengan baik.

Oh iya, layaknya film Jepang pada umumnya, di dalam film ini juga terselip beberapa guyonan khas di sela-sela tema serius yang diangkat. Tidak berlebihan dan cukup membantu mencairkan suasana serius yang dibahas dalam film ini.

Secara garis besar konsep film ini sangat menarik dan eksekusinya bisa dibilang cukup bagus, tidak jelek, namun juga tidak yang terlalu wah... Kwik rekomendasikan film ini buat kalian penggemar film Jepang (terutama penggemar ketiga tokoh utama) dan juga pencinta drama misteri. Film ini cukup ringan untuk diikuti, tidak seperti beberapa film dengan tema sains yang terkadang cukup membingungkan para penonton yang tidak begitu tertarik dengan angka dan teori...

Film ini sudah bisa kalian tonton mulai tanggal 7 November 2018 ini di beberapa bioskop CGV. Selamat menonton...!!!

-Kwik-

[POJOK SELEB] Penjelasan J.K Rowling Tentang Karakter Claudia Kim Dalam “Fantastic Beasts 2” Yang Mengundang Kontroversi



Claudia Kim memainkan Nagini di “Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald.”

Nama karakter yang dimainkan oleh Claudia Kim dalam film ini pertama kali terungkap di trailer terakhir yang dirilis pada 25 September. Karena rincian perannya tidak diungkapkan di mana saja sampai hari itu, penggemar di seluruh dunia ingin tahu rahasianya. 

Trailer terakhir dan video promosi dengan demikian mengejutkan penggemar di seluruh dunia.Namun, penjelasan J.K Rowling tentang karakter dan cerita latar belakangnya menimbulkan kontroversi di kalangan penggemar. Kontroversi semakin besar ketika Rowling membalas tweet yang menunjukkan bahwa  tiba-tiba masuk seorang wanita Korea dalam seri ini yang mana tidak pernah diungkapkan dalam buku, bahkan orang tersebut berkata ini  adalah 'sampah.' . Jawabannya adalah bahwa karakter Nagini berasal dari mitos Indonesia dan Indonesia terdiri dari beberapa ratus kelompok etnis termasuk Cina.


 Fans meningkat atas jawabannya. Mereka menunjukkan bahwa kata 'Naga' sebenarnya berasal dari mitos Hindu, bukan dari bahasa Indonesia. Fans juga ingin tahu mengapa Voldemort, yang memiliki obsesi terhadap darah murni dan penyihir serta keturunan darah murni, akan menyerahkan kutukan darah dan sebagian jiwanya  yang berharga kepada perempuan dengan aman. 

Mereka juga menunjukkan betapa bermasalahnya memberikan peran sebagai hewan peliharaan pasif dan setia kepada pria kulit putih kepada seorang wanita Asia. Juga, menjelaskan bahwa peran itu diberikan kepada seorang wanita Korea karena Indonesia terdiri dari kelompok etnis seperti orang Cina dipandang sebagai kurangnya pemahaman dan klasifikasi budaya. Kontroversi sebelumnya tentang kurangnya keragaman dalam casting untuk film juga berkontribusi pada kontroversi saat ini.

Stay Tune di BEBEK-Kpo Terus untuk tau tentang Film Ini dan Karakter Claudia Kim!


Sumber : Soompi 

Trans&Rewrite : BEBEK-Kpo 

-Kwek-

[REVIEW FILM] HEILSTÄTTEN (2018)


  • Judul: HEILSTÄTTEN Haunted Hospital
  • Sutradara: Michael David Pate
  • Penulis: Michael David Pate, Eckehard Ziedrich
  • Tanggal Rilis: 19 September 2018
  • Durasi: 89 menit
  • Genre: Horror

Sinopsis:

Bangunan bekas rumah sakit selalu berhasil menciptakan kesan horor dan misteri yang khas di negara manapun. Seperti Kingseat di New Zealand, Beechworth di Australia, GONJIAM di Korea Selatan, dan yang diangkat menjadi tema film HEILSTÄTTEN kali ini, di Beelitz-Heilstätten, German. Salah satu sejarah yang membuat citra akan kehororan rumah sakit ini menjadi berbeda adalah karena rumah sakit ini pernah menjadi tempat Adolf Hitler – pemimpin Partai Nazi – dan para tentaranya dirawat pada Perang Dunia I. Tidak hanya itu saja, dilaporkan juga pada tahun 1940 – 1945, rumah sakit ini melakukan berbagai eksperimen pada manusia secara ilegal dan bahkan hingga saat ini, terdapat juga laporan akan adanya aktivitas paranormal di HEILSTÄTTEN.

Film ini menceritakan sekelompok YouTuber terkenal, yang tertarik akan riwayat horor HEILSTÄTTEN. Mereka secara diam-diam memasuki komplek rumah sakit tua yang terlantar ini. Demi popularitas dan ke”viral’an untuk memperkaya folllowers, mereka bertekad untuk melakukan uji nyali 24 jam dan bermalam di tempat yang terkenal angker ini. Para Youtuber ini dilengkapi dengan handycam mereka, berikut dengan gadget penunjang ‘night vision’ agar tetap dapat merekam petualangan mereka dalam keadaan gelap dan juga kamera thermal yang dapat merekam dan mengkonversi energi panas ke dalam gambar cahaya yang tampak. Para pecandu adrenalin inipun mengejar rumor adanya aktivitas paranormal dengan harapan dapat merekam pembuktian mereka dan mengunduh petualangan mereka di social media.

Jika para pengujung GONJIAM dibuat penasaran dengan kamar 402 yang konon tidak boleh dibuka, pengunjung HEILSTATTEN dihantui oleh pasien nomor 106 yang dirumorkan bergentayangan di lorong-lorong gelap rumah sakit ini. Petualangan seru yang mereka harapkan, menjadi perjuangan paling mengerikan dalam hidup mereka.


Pemeran Utama:
  • Tim Oliver sebagai Theo
  • Nilam Farooq sebagai Betty
  • Sonja Gerhardt sebagai Marnie
  • Timmy Trinks sebagai Finn
Sumber: Moxienotion, imdb



Kali ini agak berbeda dari biasanya, Bebek K-po akan mereview film non-Korea... Berkat undangan dari Moxienotion, hari Senin tanggal 17 September 2018 kemarin, tim Bebek K-po berkesempatan untuk dapat ikut dalam screening film horor asal Jerman ini (dapet sedikit bingkisan pula... makasih Moxienotion... 😄)


Sekilas sejarah tentang rumah sakit ini didirikan pada tahun 1898 dan terdiri dari sekitar 60 bangunan yang berlokasi di distrik Beelitz Heilstatten. Antara tahun 1989 hingga 1930, kompleks rumah sakit ini berfungsi sebagai sanatorium untuk penyakit paru, utamanya untuk kondisi fatal seperti tuberculosis (TBC). Pada masa Perang Dunia I, rumah sakit ini juga berfungsi untuk menangani para korban perang, termasuk Adolf Hitler muda saat masih menjadi tentara. Pada saat Perang Dunia II, rumah sakit ini kembali melayani para tentara yang terluka.

Saat ini, hanya sebagian kecil komplek bangunan yang masih difungsikan sebagai tempat rehabilitasi neurologi dan penelitian Parkinson, sedangkan sebagian besar bangunan dibiarkan terbengkalai. Lokasi ini pun akhirnya menjadi tempat populer bagi para penjelajah urban dan orang-orang yang mencari lokasi menyeramkan.

Sumber: Atlas Obscura

Review:

Pertama kali melihat trailer dan sinopsis film ini, yang pertama terbersit adalah Gonjiam. Yak, memang sekilas film ini memiliki konsep yang mirip dengan gonjiam. Sekumpulan streamer memasuki bekas rumah sakit yang terbengkalai dan menantang para penunggu di dalamnya. Namun ternyata hanya konsep umum saja yang mirip. Alur ceritanya juga berbeda.

Sama seperti gonjiam, film ini dibuat dengan sudut pandang kamera layaknya pada video-video para streamer web. Mulai dari intro, perjalanan, dan setiap adegan di dalamnya benar-benar selayaknya kita menonton video dari sebuah situs streaming video. Namun peralatan yang digunakan tidaklah seheboh gonjiam. Dalam film ini hanya menggunakan kamera pribadi masing-masing, kamera yang dipasang di beberapa sudut ruangan, serta kamera night vision yang menunjukkan perubahan suhu yang katanya juga bisa menunjukkan dimana hantu berada.

Secara visual, gambar dalam film ini terlihat lebih tidak stabil karena hanya ada kamera yang dipegang masing-masing karakter, tidak ada kamera yang dipasang di badan untuk mengurangi guncangan layaknya gonjiam. Selain itu, penampakan hantu dalam film ini bisa dibilang lebih terang-terangan. Berkali-kali Kwik dikagetkan oleh adegan kemunculan para "penunggu" tersebut.

Satu hal yang membuat Kwik salut dengan film ini, plot twist. Yak... film horor pun memiliki plot twist yang benar-benar membuat Kwik speechless dan merasa tertipu... Selain itu layaknya film horor pada umumnya, jumpscare film ini benar-benar membuat Kwik kaget (maklum Kwik penakut, hehe)

Film ini mengangkat isu kekinian dimana banyak anak muda yang kecanduan menyajikan konten-konten di situs streaming dan tak jarang melakukan hal-hal yang membahayakan atau mengganggu sekitar semata-mata hanya untuk ketenaran belaka.

Tapi berakhirnya film ini masih menyisakan beberapa misteri yang belum terpecahkan. beberapa hal masih terasa mengganjal dan seakan belum tuntas dibahas. Pembangunan cerita antar karakter pun terasa tidak terlalu kuat. Film ini lebih mementingkan aspek horor dan tidak terlalu memperhatikan hal-hal lain seperti penjelasan hubungan dan ikatan antar karakter serta penggambaran kepribadian. 

Yah walaupun dari segi cerita masih terasa ada gap di beberapa tempat, tujuan utama film ini sebagai film horor untuk memberikan sensasi memacu adrenalin cukup bagus. Film ini Kwik rekomendasikan bagi kalian penggemar film horor dan suka memacu adrenalin dengan adegan-adegan yang mengagetkan dan beberapa adegan sadis di dalamnya.

-Kwik-